penggunaan kalimat efektif dalam penulisan karya ilmiah

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Kegiatan menulis merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam proses belajar yang dialami mahasiswa selama menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pada setiap semester para mahasiswa harus menulis makalah atau tulisan lainnya, bahkan untuk sebagian besar mata kuliah yang ditempuh. Dengan demikian, mereka diharapakan akan memiliki wawasan yang lebih luas dan mendalam mengenai topik yang ditulisnya. Dalam menghadapi tugas menulis di atas sebagian besar mahasiswa menganggapnya sebagi beban berat. Anggapan tersebut muncul karena kegiatan menulis menyita banyak waktu, tenaga, pemikiran, serta perhatian yang sungguh-sungguh. Disamping itu kegiatan menulis menuntut keterampilan yang kadang-kadang tidak dimiliki oleh mahasiswa. Ada pula mahasiswa yang meragukan kegunaannya, apalagi jika tugas menulis itu dikaitkan dengan mata kuliah yang bukan merupakan mata kuliah bidang studinya.

Sehubungan dengan kegunaan tugas atau kegiatan menulis tersebut, Subarti Akhadiah dkk (1988) mengemukakan bahwa banyak keuntungan yang dapat diambil dari pelaksanaan tugas atau kegiatan menulis tersebut, antara lain:

  1. Dengan menulis kita dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita

  2. M1

    elalui kegiatan menulis kita mengembangkan berbagai gagasan

  3. Kegiatan menulis memaksa kita lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis
  4. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat

  5. Melalui tulisan kita akan dapat meninjau serta menilai gagasan kita sendiri secara lebih objektif
  6. Dengan menuliskan di atas kertas kita akan lebih mudah memecahkan permasalahan

  7. Tugas menulis mengenai suatu topik mendorong kita belajar secara aktif

  8. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.

 

Tentu saja kegiatan menulis di perguruan tinggi tidak sesederhana menulis di lembaga pendidikan dasar atau menengah. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Tulisan yang baik memilki beberapa ciri, diantaranya bermakna, jelas/lugas, merupakan kesatuan yang bulat, singkat dan padat, serta memenuhi kaidah kebahasaan. Disamping itu tulisan yang baik harus bersifat komunikatif.

Untuk dapat menghasilkan tulisan seperti yang diaparkan di atas, maka dituntut beberapa kemampuan sekaligus. Agar dapat menulis karangan misalnya, kita harus memilki pengetahuan tenatng apa yang akan ditulis. Disamping itu kita harus mengetahui bagaimana menuliskannya. Pengetahuan yang pertama menyangkut isi karangan, sedangkan yang kedua menyangkut aspek-aspek kebahasaan dan teknik penulisan. Baik isi karangan, aspek kebahasaan, maupun teknik penulisan berkaitan erat dengan gagasan pikiran.

Setiap gagasan pikiran atau konsep yang dimilki seseorang pada prakteknya harus dituangkan ke dalam bentuk kalimat. Kalimat yang baik persyaratan utamanya harus memenuhi persyaratan gramatikal. Hal tersebut berarti bahwa kalimat harus disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut menurut Subarti Akhadiah dkk (1988) meliputi: (1) Unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat, (2) Aturan-aturan tentang Ejaan Yang Disempurnakan, (3) Cara memilih kata dalam kalimat (diksi).

Kelengkapan unsur sebuah kalimat sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Oleh sebab itu sebuah kalimat minimal harus memiliki subjek dan predikat. Kalimat yang lengkap ini harus ditulis sesuai dengan aturan-aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kata-kata yang digunakan dalam membentuk kalimat tadi haruslah dipiih dengan tepat, sehingga kalimat menjadi jelas maknanya.

Kalimat yang benar dan jelas akan mudah dipahamai orang lain secara tepat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk memunculkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembaca. Bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan oleh penulis.

Sesuai dengan paparan di atas penulis ingin mengetahui hal-hal apa saja yang berkaitan dengan kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah melalui penulisan dengan judul ”Penggunaan Kalimat Efektif dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah”.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Mengacu dari judul di atas maka rumusan masalah yang dapat penulis bahas dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah?
  2. Apa saja ciri-ciri kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah?

  3. Apa saja sebab-sebab ketidakefektifan kalimat?

 

  1. TUJUAN PENULISAN
  1. Mendeskripsikan maksud kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah?

  2. Mendeskripsikan ciri-ciri kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah?

  3. Mendeskripsikan sebab-sebab ketidakefektifan kalimat?

 

 

BAB II

EMBAHASAN

 

  1. KALIMAT EFEKTIF DALAM KARYA TULIS ILMIAH

Kalimat efektif adalah kalimat yang berisikan gagasan pembicara atau penulis yang dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca (singkat), hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata (jelas), dan sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku (tepat). Penggunaan kalimat efektif dalam karya tulis ilmiah diukur dari dua sisi, yaitu dari sisi penulis dan pembaca. Dari sisi penulis, kalimat dikatakan efektif jika kalimat yang digunakan dapat mengakomodasi gagasan kelimuan penulis secara tepat dan akurat. Sedangkan dari sisi pembaca, pesan kalimat ditafsirkan sama persis dengan yang dimaksudkan penulisnya. Oleh sebab itu , jika pembaca masih mengalami kebingungan dan kesulitan yang mengakibatkan salah menafsirkan pesan kalimat maka kalimat tersebut belum dapat dikategorikan efektif (Heri dan Anang, 2007).

 

  1. CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF DALAM KARYA TULIS ILMIAH

S5

ecara garis besar kalimat efektif mempunyai ciri-ciri gramatikal, bernalar atau logis, efisien, dan jelas. Keempat hal yang menjadi syarat ini merupakan syarat pokok yang perlu dimilki oleh semua kalimat dalam karya tulis ilmiah. Syarat yang lain, misalnya keparalelan dan kevariasian, hanya berlaku pada kalimat-kalimat tertentu. Sedangkan syarat penekanan tidak bisa ditentukan kebenarannya dalam pemakaian mengingat yang perlu mendapat tekanan dalam suatu kalimat sifat subjektif, sehingga yang tahu secara pasti hanya penulis. Disamping itu cara melakukan penekanan tidak hanya menggunakan satu cara, melainkan tergantung kepada penulisnya. Berikut ini adalah pemaparan ciri-ciri kalimat efektif antara lain:

 

  1. Gramatikal

Syarat pertama kalimat efektif adalah kegramatikalan atau kebenaran kalimat. Suatu kalimat dikatakan gramtikal atau benar apabila penyusunannya mengikuti kaidah bahasa yang bersangkutan. Ketaatan pada kaidah ini tampak pada struktur yang dibangun dalam kalimat tersebut. Kaidah tata bahasa dapat dilihat dalam buku-buku tata bahasa. Selain itu, kaidah tata bahasa selalu dimiliki oleh penutur asli bahasa yang dimaksud. Maksudnya, penutur asli mempunyai kepekaan terhadap kaidah tata bahasanya.

Kegramatikalan sebuah kalimat dapat dilihat dari segi struktur sintaksis, bentuk kata, dan ketepatan diksi. Kalimat dikatakan gramatikal dari segi sintaksis apabila urutan kata-kata yang membentuk kalimat itu tepat dan lazim digunakan oleh masyarakat penuturnya.

Contoh:

Surat itu saya telah tanda tangani.

Buku itu diambil oleh saya

Seharusnya:

Surat itu telah saya tanda tangani

Buku itu saya ambil

Kalimat dikatakan gramatikal dari segi bentuk kata apabila bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu sesuai dengan kaidah pembentukan kata. Kesalahan pembentukan kata yang digunakan dalam kalimat biasanya berupa ketidaklengkapan pembentukan dan ketidakcermatan pembentukan kata.

Contoh:

Mike Tyson pukul KO lawannya.

Pemerintah bantu korban bencana alam.

Seharusnya:

Mike Tyson memukul KO lawannya.

Pemerintah membantu korban bencana alam.

Kalimat dikatakan gramatikal dari segi ketepatan diksi apabila dalam kalimat itu tidak terdapat pemakaian kata yang tidak lazim. Kata-kata digunakan dengan makna yang tepat serta sesuai dengan perilakunya, khususnya kata-kata yang mempunyai (makna) kolokasi dan sinonim.

Contoh:

Lampu di ruang tamu itu telah tewas.

Ibu saya tampan sekali.

Seharusnya:

Lampu di ruang tamu itu telah mati.

Ibu saya cantik sekali.

 

  1. Logis

Suatu kalimat dikatakan logis apabila informasi (proporsi) kalimat tersebut dapat diterima oleh akal atau nalar. Logis atau tidaknya kalimat dilihat dari segi maknanya, bukan strukturnya. Kelogisan kalimat tampak pada gagasan dan pendukungnya yang dipaparkan dala kalimat. Suatu kalimat dikatakan logis apabila gagasan yang disampaikan masuk akal, hubungan antargagasan dalam kalimat masuk akal, dan hubungan gagasan pokok serta gagasan penjelas juga masuk akal (Heri Suwignyo dkk, 2001).

Contoh:

Kuda memanjat pohon

Seharusnya:

Tidak masuk akal kuda dapat memanjat pohon (kalimat tidak logis).

Kelogisan kalimat didukung oleh ketepatan diksi dan bentukan kata yang digunakan. Diksi yang tepat akan dapat membantu memperjelas informasi yang dikandungnya.

Contoh:

Pencopet itu telah berhasil ditangkap oleh polisi.

Seharusnya:

Pencopet itu telah ditangkap oleh polisi.

Kelogisan kalimat juga ditentukan oleh pembentukan kata.

Contoh:

Rina menangkapkan kupu-kupu adiknya.

Seharusnya:

Rina menangkapkan adiknya kupu-kupu. / Rina menangkap kupu-kupu untuk adiknya.

Kalimat menjadi tidak logis dapat juga disebabkan oleh pengguna logika bahasa yang salah.

Contoh:

Waktu dan tempat kami persilakan!

Yang merasa kehilangan buku harap diambil di kantor TU.

Seharusnya:

Waktu dan tempat kami serahkan. / Yang terhormat Bapak … kami persilahkan!

Yang merasa kehilangan buku harap mengambilnya di kantor TU.

 

 

 

  1. Efisien

Kalimat efisien atau hemat adalah kalimat yang padat isi bukan padat kata. Artinya, kalimat itu hanya menggunakan kata sesedikit mungkin, tetapi dapat menyampaikan informasi secara tepat dan jelas. Pengungkapan informasi dengan menggunakan banyak kata merupakan pemborosan. Penggunaan kata yang berlebihan menjadikan kalimat menjadi berbelit-belit dan sulit dipahami.

Contoh:

Sesuai dengan pengamatan kami yang selam kuranng lebih dua bulan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata yang kami programkan di desa Pronojiwo di mana salah satu kegiatan itu adalah di dalamnya terdapat sektor Keluarga Berencana, di mana pelaksanaan KKN itu dilaksanakan bulan Juni, Juli 2009, bahwa pelaksanaan Keluarga Berencana desa Pronojiwo belum berhasil.

Seharusnya:

Sesuai dengan pengamatan kami saat melaksanakan program KKN di desa Pronojiwo pada bulan Juni-Juli 2009, ternyata pelaksanaan KB di desa tersebut belum berhasil.

Kalimat efisien ditandai dengan tiadanya unsur kalimat yang tidak ada manfaatnya (atau tidak ada unsur mubazir).

Contoh:

Pasukan Mujahidin saling tembak-menembak dengan pasukan pemerintah Kabul dukungan Soviet di perbatasan kota.

Amuba itu hewan yang amat sangat kecil sekali.

Seharusnya:

Pasukan Mujahidin tembak-menembak dengan pasukan pemerintah Kabul dukungan Soviet di perbatasan kota.

Amuba itu hewan yang sangat sekali.

Dalam percakapan sehari-hari atau pun di surat kabar sering dijumpai penggunaan unsur mubazir. Unsur mubazir itu dapat berupa penggunaan kata tugas.

Contoh:

Kakak dari Bapak Parno meninggal pada hari Senin yang lalu.

Mereka membicarakan tentang hasil penelitiannya.

Seharusnya:

Kakak Bapak Parno meninggal pada hari Senin yang lalu.

Mereka membicarakan hasil penelitiannya.

 

  1. Jelas

Tujuan menyusun kalimat adalah untuk menyampaikan informasi (proposisi) kepada orang lain. Tujuan itu dapat tercapai bila proposisi kalimat itu dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca. Kalimat yang proposisinya dapat mudah dipahami itulah yang dinamakan kalimat jelas. Sebaliknya, kalimat yang mempunyai kemungkinan banyak tafsir dinamakan kalimat ambigius (Heri Suwignyo dkk, 2001). Kalimat yang ambigius dalam karya tulis ilmiah perlu dihindari sebab dapat menimbulkan salah pengertian.

Contoh:

Gadis itu tidak cantik, pandai, dan ramah.

Kemungkinan arti:

Gadis itu pandai, ramah, dan tidak cantik. / Gadis itu tidak cantik, tidak pandai, dan tidak ramah.

Kesalahan penggunaan tanda baca dapat menimbulkan ketidakjelasan kalimat. Dalam surat kabar sering dijumpai kalimat-kalimat yang tidak memperhatikan penggunaan tanda baca.

 

Contoh:

Berdasarkan penelitian tikus sawah dapat menyebabkan penyakit.

Seharusnya:

Berdasarkan penelitian, tikus sawah dapat menyebabkan penyakit. (perhatikan tanda koma)

Kalimat yang panjang juga dapat menimbulkan kesulitan dalam memahami proposisi kalimat.

Contoh:

Kewajiban belajar, sistem ujian standar nasional yang uniform menghasilkan suatu kekayaan sumber daya penduduk yang terlatih baik, memilki inti kebudayaan berkebangkitan, penduduk yang bergairah belajar, dapat dididik,berdisiplin, peka urusan kemasyarkatan dan kemanusiaan, dan terdidik bekerja keras.

Seharusnya kalimat tersebut harus dipecah menjadi kalimat yang lebih sederhana seperti berikut:

Sistem wajib belajar dan sistem ujian dengan standar nasional yang seragam dapat menghasilkan kekayaan sumber daya manusia (penduduk). Dengan sistem itu juga dapat dihasilakn manusia-manusia yang terlatih dan memilki inti kebudayaan. Selain itu, juga dapat diperoleh manusia yang bergairah belajar, dapat dididik, berdisiplin, peka terhadap urusan kemasyarakatan dan kemanusiaan serta manusia yang terlatih bekerja keras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. SEBAB-SEBAB KETIDAKEFEKTIFAN KALIMAT

Kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu dipahami pembaca sesuai dengan maksud penulisnya. Sebaliknya, kalimat yang sulit dipahami atau salah terpahami oleh pembacanya termasuk kalimat yang tidak efektif.

Ketidakefektifan kalimat tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kontaminasi, yaitu merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah.

Contoh:

  • diperlebar, dilebarkan (benar) – diperlebarkan (salah)
  • memperkuat, menguatkan (benar) – memperkuatkan (salah)
  • sangat baik, baik sekali (benar) – sangat baik sekali (salah)
  • saling memukul, pukul-memukul (benar) – saling pukul-memukul (salah)
  • Di sekolah diadakan pentas seni (benar) – Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
  1. Pleonasme, yaitu berlebihan atau tumpang tindih.

Contoh:

  • para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
  • para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
  • banyak siswa-siswa (banyak siswa)
  • saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
  • agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
  • disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)

 

 

  1. Tidak memiliki subjek

Contoh:

  • Buah mangga mengandung vitamin C. (SPO) (benar)
  • Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar)
  • Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)

 

  1. Adanya kata depan yang tidak perlu

Contoh:

  • Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat. (kata daripada dihilangkan)
  • Kepada siswa kelas VII berkumpul di GOR. (kata kepada dihilangkan)
  • Selain daripada bekerja, ia juga kuliah. (kata daripada dihilangkan)
  1. Salah nalar

Contoh:

  • Waktu dan tempat dipersilahkan. (siapa yang dipersilahkan)
  • Vespa Pak Erwin mau dijual. (apakah bisa menolak?)
  • Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)

  • Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)

  • Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)

  • Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
  • Bola gagal masuk gawang. (ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)

 

 

  1. Kesalahan pembentukan  kata

Contoh:

  • mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
  • menyetop seharusnya menstop
  • mensoal seharusnya menyoal
  • ilmiawan seharusnya ilmuwan
  • sejarawan seharusnya ahli sejarah
  1. Pengaruh bahasa asing

Contoh:

  • Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (kata rumah seharusnya tempat)
  • Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
  • Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
  1. Pengaruh bahasa daerah

Contoh:

  • sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
  • oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
  • Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

 

 

BAB III

ENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Kegiatan menulis karya tulis ilmiah merupakan kegiatan yang akrab dengan para mahasiswa khususnya dalam hal tugas akhir mata kuliah. Selain untuk menyelesaikan tugas akhir mata kuliah, kegiatan menulis karya tulis ilmiah banyak sekali manfaatnya bagi para mahasiswa, diantaranya yaitu lebih mengenali kemampuan dan potensi diri, mengembangkan berbagai gagasan, lebih banyak menyerap, mencari, dan menguasai informasi, serta membiasakan kita berpikir dan berbahasa secara tertib.

Dalam kegiatan menulis harus memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku, salah satunya yaitu penggunaan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan kepada pembaca sebagaimana yang dikehendaki penulis. Kalimat efektif memiliki empat persyaratan pokok, yaitu gramatikal, logis, efisien, dan jelas. Suatu kalimat dikatakan gramatikal apabila kalimat tersebut disusun berdasarkan kaidah ketatabahasaan. Suatu kalimat dikatakan logis apabila informasi yang disampaikan penulis dapat diterima oleh akal sehat. Suatu kalimat dikatakan efisien apabila dalam kalimat tersebut tidak ditemukan unsur yang boros atau mubazir. Sedangkan kejelasan kalimat berhubungan dengan ketidakambiguan makna yang terkandung dalam kalimat.

 

 

 

15

 

 

  1. SARAN
  1. Dalam kegiatan menulis karya tulis ilmiah hendaknya para mahasiswa memperhatikan penggunaan kalimat efektif

  2. Dalam kegiatan menulis karya tulis ilmiah hendaknya para mahasiswa menghindari penggunaan kalimat yang tidak efektif

  3. Perguruan tinggi hendaknya dapat membantu meningkatkan wawasan para mahasiswa khususnya dibidang penulisan karya tulis ilmiah dengan mengadakan sosialisasi, seminar, workshop, atau kompetisi yang berkaitan dengan penulisan karya tulis ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Akhadiah, Sabarti dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

http://aiemalissa.wordpress.com/2009/10/04/kalimat-efektif-dlm-bind/ akses 12 Oktober 2010

Suwignyo, Heri dkk. 2001. Bahasa Indonesia Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang

 

________________. 2007. Bahasa Indonesia Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF

DALAM PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

 

 

MAKALAH

 

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Bahasa Indonesia Keilmuan

Yang dibina oleh Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd

 

 

 

Oleh :

HARIS FRANATA

100151405834

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KSDP

Nopember 2010

DAFTAR ISI

 

  Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………….

KATA PENGANTAR……………………………………………………………….

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….

 

BAB I : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang……………………………………………………………
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………..

 

BAB II : PEMBAHASAN

  1. Kalimat Efektif dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah……….
  2. Ciri-ciri Kalimat Efektif dalam Karya Tulis Ilmiah.………..
  3. Sebab-sebab Ketidakefektifan Kalimat………………………….

 

BAB III : PENUTUP

    1. Kesimpulan………………………………………………………………..
    2. Saran…………………………………………………………………………

 

DAFTAR PUSTAKA

i

ii

iii

 

1

1

4

4

 

5

5

5

12

 

15

15

16

 

17

 

 

 

iii

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya-Nya yang tiada terhingga, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penggunaan Kalimat Efektif dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menyelesaikan studi pada program studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih atas bantuan, bimbingan, dan pengarahan yang diberikan kepada penulis oleh Bapak Didin Widyartono, S.S., S.Pd, M.Pd selaku dosen pembimbing, teman-teman, serta semua pihak yang membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karena itu demi kesempuranaan, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi lebih baik.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan para pembaca pada umumnya.

 

 

Malang, Nopember 2010

 

Penulis

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

About these ads

About harrysfranata

I am boy like girl
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s